body{ background:#ded8c0; color:#28261A; font:12px verdana,arial,Sans-erif; text-align:left; margin:0; line-height:1.6em; }

Rabu, 28 November 2012

MAKALAH BERBICARA


MAKALAH
“BERBICARA”

Makalah ini di buat untuk memenuhi tugas Dasar Keilmuan Bahasa Indonesia, yang di bina oleh :
Bpk.Wakhid Khoirul Ikhwan, S.S, M.Pd


Logo Universitas Trunojoyo Madura Terbaru.jpg




Nama Anggota Kelompok

Lutvi Anggraini          (120611100004)
Erica Agustina            (120611100003)
Atabika Ramadhan    (120611100007)



Program Studi PGSD
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya
Oktober  2012
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena tanpa berkat dan rahmat-Nya, mungkin kami tidak akan mampu menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Terlantun sholawat dan salam untuk imam besar kita semua Nabi Muhammad SAW. Rasa terimakasih juga banyak terucap kepada Bpk. Wakhid Khoirul Ikhwan, S.S, M.Pd,  selaku dosen matakuliah Dasar Keilmuan Bahasa Indonesia. Tak lupa juga ucapan terima kasih kami berikan kepada teman-teman yang selama ini saling membantu dan mendukung dalam pengerjaan makalah ini.
Adapun makalah yang berjudul “Berbicara”  ini berisi uraian-uraian mengenai , pengertian berbicara,  wawancara, berpidato, mendongeng dan pembawa acara. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih memiliki banyak kekurangan dan kesalahan, baik dari segi isi maupun redaksinya. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat menyusun makalah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Atas semua kesalahannya kami ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya.Semoga makalah ini dapat berguna baik bagi kami sebagai penulis maupun bagi pembaca.


Bangkalan,20  Oktober 2012


Tim Penulis




DAFTAR ISI


JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 2
1.3 Tujuan Rumusan Masalah 2
BAB II PEMBAHASAN 3
2.1 Pengertian Berbicara   3
2.2 Wawancara 4
2.4 Berpidato   5
2.5 Mendongeng   7
2.6 Pembawa Acara   7
BAB III PENUTUP 9
3.1 Kesimpulan 9
3.1 Saran 10
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kehidupan manusia tidak dapat lepas dari kegiatan berbahasa. Bahasa merupakan sarana  untuk berkomunikasi antar manusia. Bahasa sebagai alat komunikasi ini, dalam rangka memenuhi sifat manusia sebagai makhluk sosial yang perlu berinteraksi dengan sesama manusia. Bahasa dianggap sebagai alat yang paling sempurna dan mampu membawakan pikiran dan perasaan baik mengenai hal-hal yang bersifat konkrit maupun yang  bersifat abstrak (Effendi, 1985:5). Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia dituntut untuk mempunyai kemampuan berbahasa yang baik. Seseorang yang mempunyai kemampuan berbahasa yang memadai akan lebih mudah menyerap dan menyampaikan informasi baik secara lisan maupun tulisan.
Kemahiran berbicara merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa yang ingin dicapai dalam pengajaran bahasa. Berbicara merupakan sarana utama untuk membina saling pengertian, komunikasi timbal balik, dengan menggunakan bahasa sebagai medianya. Kegiatan berbicara didalam kelas bahasa mempunyai aspek komunikasi dua arah, yakni antara pembicara dengan pendengarnya secara timbal balik. Dengan demikian latihan berbicara harus terlebih dahulu didasari oleh :(1) kemampuan mendengarkan, (2) kemampuan mengucapkan, dan (3) penguasaan (relatif) kosa kata dan ungkapan yang memungkinkan siswa dapat mengkomunikasikan maksud atau fikirannya.
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa latihan berbicara ini merupakan kelanjutan dari latihan menyimak yang didalam kegiatannya juga terdapat latihan mengucapkan. Target yang hendak dicapai dalam hal ini adalah kemampuan dan kelancaran berbahasa lisan atau berbicara lisan (berkomunikasi) langsung sebagai fungsi utama bahasa.




1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang kami bahas yaitu:
d Apakah yang dimaksud dengan berbicara?
d Apa yang di maksud dengan wawancara?
d Apa yang di maksud dengan berpidato?
d Apa yang di maksud dengan mendongeng?
d Apa yang di maksud dengan pembawa cara?

1.3 Tujuan Rumusan Masalah
Adapun tujuan rumusan masalah yang kami bahas yaitu:
d Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan berbicara.
d Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan wawancara.
d Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan berpidato.
d Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan mendongeng.
d Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan pembawa acara.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Berbicara
Menurut Tarigan (1990:15) berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Selanjutnya dijelaskan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikombinasi­kan. Berbicara juga merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang me­man­fa­atkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik, dan linguis­tik sedemikian ekstensif, secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol social. Jadi, berbicara itu sebenarnya merupakan suatu proses bukan kemampuan, yaitu proses penyampaian pikiran, ide, gagasan dengan bahasa lisan kepada komunikan (orang lain atau diri sendiri).
Unsur-unsur berbicara
d pembicara
d lawan bicara (penyimak)
d lambang (bahasa lisan) 
d pesan, maksud, gagasan, atau ide
Tujuan Berbicara
Pada dasarnya, berbicara itu memiliki tiga maksud utama, yaitu:
d memberitahukan, melaporkan (to inform)
d menjamu, menghibur  (to intertain)
d membujuk, mengajak, mendesak, meyakinkan (to persuade)
Ketepatan ucapan (tata bunyi)
d Logat baku tidak bercampur dengan dialek tak baku.    
d Lafal harus jelas dan tegas
d Nafas yang kuat agar dapat menguraikan kalimat yang cukup panjang atau tidak terputus dalam wicara.
d Tempo (cepat lambat suara) dan dinamik (intonasi, tekanan, aksen) suara.
d Penghayatan, berbicara memerlukan penjiwaan agar sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi.
Penempatan Tekanan, Nada, Sendi, dan Durasi yang Sesuai
Tekanan berhubungan dengan keras lemahnya suara, nada berhubungan dengan tinggi-rendahnya suara, sendi atau tempo berhubungan dengan cepat-lambatnya berbicara, dan durasi atau jeda menyangkut perhentian. Keempat hal itu harus dapat dipadukan secara serasi untuk memperoleh intonasi yang baik dan menarik.
Faktor Nonkebahasaan sebagai Penunjang Keefektifan Berbicara
d sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku,
d kontak mata atau pandangan harus diarahkan kepada lawan bicara,
d kesediaan menghargai pendapat orang lain,
d Gerak-gerik dan mimik yang tepat,
d kenyaringan suara
d kelancaran,
d relevansi atau penalaran,
d penguasaan topik.

2.2 Wawancara
Wawancara ialah tanya jawab antara pewawancara dengan yang diwawancara untuk meminta keterangan atau pendapat mengenai suatu hal. Atau  suatu cara untuk mengumpulkan data atau memperoleh informasi degan mengajukan pertanyaan langsung kepada narasumber atau otoritas.
Ditinjau dari segi pelaksanaannya, wawancara dibagi menjadi 3 jenis yaitu:
d Wawancara bebas
Dalam wawancara bebas, pewawancara bebas menanyakan apa saja kepada responden, namun harus diperhatikan bahwa pertanyaan itu berhubungan dengan data-data yang diinginkan. Jika tidak hati-hati, kadang-kadang arah pertanyaan tidak terkendali.
d Wawancara terpimpin
Dalam wawancara terpimpin, pewawancara sudah dibekali dengan daftar pertanyaan yang lengkap dan terinci.
d Wawancara bebas terpimpin
Dalam wawancara bebas terpimpin, pewawancara mengombinasikan wawancara bebas dengan wawancara terpimpin, yang dalam pelaksanaannya pewawancara sudah membawa pedoman tentang apa-apa yang ditanyakan secara garis besar.
Saat melakukan wawancara, pewawancara harus dapat menciptakan suasana agar tidak kaku sehingga responden mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Untuk itu, sikap-sikap yang harus dimiliki seorang pewawancara adalah sebagai berikut:
d Netral; artinya, pewawancara tidak berkomentar untuk tidak setuju terhadap informasi yang diutarakan oleh responden karena tugasnya adalah merekam seluruh keterangan dari responden, baik yang menyenangkan atau tidak.
d Ramah; artinya pewawancara menciptakan suasana yang mampu menarik minat si responden.
d Adil; artinya pewawancara harus bisa memperlakukan semua responden dengan sama. Pewawancara harus tetap hormat dan sopan kepada semua responden bagaimanapun keberadaannya.
d Hindari ketegangan; artinya, pewawancara harus dapat menghindari ketegangan, jangan sampai responden sedang dihakimi atau diuji. Kalau suasana tegang, responden berhak membatalkan pertemuan tersebut dan meminta pewawancara untuk tidak menuliskan hasilnya. Pewawancara harus mampu mengendalikan situasi dan pembicaraan agar terarah.
d Bersikap sopan santun, wajar, dan ramah.
d Dahulukan pertanyaan yang ringan dan sederhana.
d Bertanya dengan kalimat yang jelas, dan sesuai dengan topik wawancara.
d Hindari pertanyaan yang bersifat pribadi.
d Jangan menyela narasumber, apabila sedang berbicara.
d Selesai wawancara ucapkan terimakasih.

2.3 Berpidato
Berpidato dalah aktivitas yang dilakukan sesorang untuk mengungkapkan,  ide, gagasan, pikaran, baik yang direncanakan maupun tidak direncanakan. Atau juga sebuah kegiatan berbicara di depan umum atau berorientasi guna menyatakan pendapatnya, memberikan gambaran, tentang suatu hal.
Pidato umumnya melakukan satu atau beberapa hal berikut ini :
d Menyampaikan informasi atau pemahaman kepada orang lain (informatif).
d Menghibur atau menyenagkan hati pendengar, sehingga orang lain senang dengan ucapan yang disampaikan (rekreatif).
d Meyakinkan pendengar (argumentatif).
d Membunjuk atau mempengaruhi pendengar (persuasif).
Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan ketika berpidato, atau berbicara di depan umum agar tidak minder (nervous) diantaranya :
d Fokus pada materi yang dibicarakan.
d Menguasai materi.
d Tidak perlu intermezzo dan lain-lain, kecuali jika perlu.
d dalam berpidato atau tampil berbicara di depan umun, naskah pidato penting untuk menunjang kelancaran dalam menyampaikan materi pidato.
Kriteria berpidato yang baik
d Pidato yang saklik, yaitu apabila memiliki obyektivitas dan unsur-unsur yang mengandung kebenaran. Saklik berarti pula adaa hubungan antara yang serasi antara isi pidato dan formulasinya.
d Pidato yang jelas, yaitu pembicara harus memilih ungkapan dan susunan kalimat yang jelas untuk menghindari salah pengertian.
d Pidato yang hidup,  untuk menghidupkan pidati dapat menggunakan gambar, cerita pendek, atau kejadian-kejadian yang relevan sehingga memancing perhatian pendengar.
d Pidato yang memilki tujuan, yaitu apa yang mau dicapai. Hendaknya dalam  berpidato tujuan harus sering di ulang dalam rumusan yang berbeda, supaya pendengar tidak kehilangan benang merah selama mendengar.
d Suatu pidato yang hanya membeberkan kejadian demi kejadian akan sangat membosankan.Oleh karenan itu kejadian demi kejadian itu di ungkapkan dalam gaya bahasa klimaks.
d Pidato yang dibatasi, orang tidak boleh membeberkan segala soal dalam suatu pidato, harus dibatasi pada satu atau dua soal yang tertutup saja. Sebab pidato yang terlalu luas akan menjadi dangkal.
d Pidato yang mengandung humor, humor dalam berpidato itu perlu, hanya saja tidak boleh terlalu banyak. Humor itu dapat menghidupkan pidato sehingga memberi kesan yang tak terlupakan oleh pendengar.
2.4 Mendongeng
Dongeng adalah cerita fiksi atau cerita khayalan yang banyak mengadung pesan moral. Dongeng biasanya di ceritakan secara lisan dan turun-temurun.
d Sebelum berdongen, ada hal-hal yang perlu kita perhatikan
d Pertama kita hurus memilih cerita yang bagus, menarik, dan energik, supaya yang mendengar ikut bersemangat mendengarnya.
d Memahami isi cerita dengan baik.
d Menyukai cerita tersebut, sehingga secara emosional akan terlibat.
d Belajar improvisasi, baik melalui gerak atau mimik muka, suara, ataupun alat peraga.
d Sesuaikan dengan waktu yang tersedia, sehingga tidak terkesan di ulur-ulur atau tergesa-gesa.
d Perhatikan cara bercerita suatu, gerakan tubuh atau mimik muka
d Improvikasikan karakter: jiwai isi cerita.
d Ajaklah pemirsa untuk antusias.
d Dalam penutup pemirsa di ajak kembali mengingat alur cerita.
d Di akhir cerita, pesan yang ingin disampaikan diulas tetapi jangan terlalu menggurui.  Ambil hikmah atau moral cerita.
d Diakhir cerita, sangat penting untuk menunjukkan perubahan ke mana tokoh protagonisnya dibawa. Pemirsa harus puas bahwa akhir cerita terasa “pas” dan tepat

2.5 Pembawa Acara
Pembawa acara atau pranataacara, atau biasa yang disebut master of ceremony yang di singkat MC adalah orang yang bertugas sebagai tuan rumah sekaligus pemimpin acara dalam panggung pertunjukan, hiburan, pernikahan, dan acara-acara sejenis.
Pembawa acara biasanya memperkenalkan peserta atau artis yang segera akan tampil di atas panggung, berdialog dengan penonton, dan secara garis besar berusaha menjaga tempo acara.
Hal-hal yang harus diperhatikan pembawa acara
d Mengetahui situasi pembicaraan/acara.
d Menguasai kaidah bahasa, seperti kata baku dan tidak baku, kalimat efektif, pelafalan kata yang benar.
d Menguasai intonasi dan nada pembicaraan yang tepat dan enak di dengar.
d Mengetahui dan mampu menggunakan macam-macamteknik berbicara sesuai dengan tujuan berbicara, seperti menginformasikan, meyakinkan, menggerakkan, membujuk, atau menghibur.
d Gerak-gerik penampilan harus luwes, wajar, dan percaya diri.
Dalam kaitannya dengan penguasaan kaidah bahasa pembawa acara harus menghindari penggunaan kalimat yang tidak efektif. Salah satu ciri kalimat tidak efektif adalah kalimat yang tidak di nalah (tidak logis), dan menggunakan kata yang berlebihan.



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas kami dapat menyimpukan bahwa :
1.      Berbicara itu sebenarnya merupakan suatu proses bukan kemampuan, yaitu proses penyampaian pikiran, ide, gagasan dengan bahasa lisan kepada komunikan (orang lain atau diri sendiri).
2.      Unsur-unsur berbicara
d pembicara
d lawan bicara (penyimak)
d lambang (bahasa lisan) 
d pesan, maksud, gagasan, atau ide
3.      Wawancara ialah tanya jawab antara pewawancara dengan yang diwawancara untuk meminta keterangan atau pendapat mengenai suatu hal. Atau  suatu cara untuk mengumpulkan data atau memperoleh informasi degan mengajukan pertanyaan langsung kepada narasumber atau otoritas.
4.      Berpidato dalah aktivitas yang dilakukan sesorang untuk mengungkapkan,  ide, gagasan, pikaran, baik yang direncanakan maupun tidak direncanakan. Atau juga sebuah kegiatan berbicara di depan umum atau berorientasi guna menyatakan pendapatnya, memberikan gambaran, tentang suatu hal.
5.      Dongeng adalah cerita fiksi atau cerita khayalan yang banyak mengadung pesan moral. Dongeng biasanya di ceritakan secara lisan dan turun-temurun.
6.      Pembawa acara atau pranataacara, atau biasa yang disebut master of ceremony yang di singkat MC adalah orang yang bertugas sebagai tuan rumah sekaligus pemimpin acara dalam panggung pertunjukan, hiburan, pernikahan, dan acara-acara sejenis.

3.2 Saran
Berbicara merupakan kemampuan yang sangat penting, karena berbicara merupakan sarana utama untuk membina saling pengertian, komunikasi timbal balik, dengan menggunakan bahasa sebagai medianya. Kegiatan berbicara didalam kelas bahasa mempunyai aspek komunikasi dua arah, yakni antara pembicara dengan pendengarnya secara timbal balik. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa latihan berbicara ini merupakan kelanjutan dari latihan menyimak yang didalam kegiatannya juga terdapat latihan mengucapkan.
Jadi kemampuan dan kelancaran berbahasa lisan atau berbicara lisan (berkomunikasi) harus di kembangkan dan di ajarkan dengan baik.


DAFTAR PUSTAKA

Alyandthenongkojajar.blogspot.com
id.shvoong.com> Halaman Utama Shvoong.
id.wikipedia.org/wiki/pembawa_acara
Srirahayuuis334.wordpress.com/
www.erlangga.co.id>home>sumber belajar>teks.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar